"Teriakan Dari Abad ke-6"

“Teriakan Dari Abad Ke-6”

Suasana Berjalan Kaki di Eropa

Berjalan kaki di Eropa telah menjadi sebuah kultur sejak lama. Cuaca yang dingin dan berangin akhirnya mendukung antusiasku mengenakan fashion yang sangat kontras dari keseharianku di Indonesia. Wajah-wajah Eropa dan Timur Tengah yang mendominasi di lautan pejalan kaki di kawasan Sultan Ahmed benar-benar  jelas mendefinisikan percampuran kultur di kawasan ini.

Seiring menuntun langkahku menuju Basilica Cistern, pikiran ini terus menerka-nerka, hamparan peradaban apa lagi yang akan kujumpai di sana? Rasa penasaran membuat ekspektasiku semakin bertambah kuat. Tempat yang digunakan sebagai lokasi film “James Bone” itu pasti sangat luar biasa indahnya....

Hmmm, apakah bangunan itu juga memilik menara-menara pencakar langit yang berhasil menculik jiwa ku di Hagia Sofia tadi? Ataukah akan lebih menyihir dan memikat hati para tourist.......?
Well, Aku harap waktu tidak menciderai antusiasku. Karena hari semakin gelap, hanya ada dua kemungkinan yang akan kutemui; kalau tempatnya nggak tutup, ya paling lama hanya 1 jam saja bisa mengeksplorasi tempat itu.

Welcome to Basilica Cistern....................

Loh, kok antriannya masih panjang banget ya? Bukannya ini sudah hampir tutup? Ah, pasti ada yang gak beres nih...

Tempatnya sumpah bikin aku bingung, apa jangan-jangan aku salah tempat ya? Masalahnya di situ cuma ada kantor. Tapi ada loketnya guys, terus bangunannya mana? Kulihat wisatawan asing lainnya sedang sibuk mengamati peta wisatanya masing-masing dengan wajah penuh rasa antusias. Anak-anak kecil menggenggam erat tangan orang tuanya seakan enggan masuk ke dalam. Baiklah, ku ikuti saja antrian itu dulu.........
Tiba-tiba firasatku mengilutrasikan ke arah yang berbau horor. Ku lihat sebuah peta wisata yang ada dalam genggaman seorang anak yang sedang berdiri di depan loket dekat penjual kestane (kacang Turki). Dalam pandanganku, tersirat makhluk seperti wanita berambut panjang berwarna hijau dan bermata hitam dengan tatapan yang tajam. Stop! Imajinasiku ini malah semakin menjadi tak karuan. Oh ternyata, dua antrian lagi bakalan giliranku nih. Yuk, siap-siap dulu...

Andra                           : Abi basilica biketi ne kadar?
Bileti satan kisi           : 20 Lira.
Andra                         : Bu para, tesekkurler.

Ah! Sumpah tangganya licin banget........
Lantainya basah....tempatnya gelap......
Hawanya dingin ....... lembab.........
Air-air pada bertetesan dari atas......
Tempat apa sih ini sebenarnya?.........

Hah! ternyata tempat ini sangat jauh berbeda dari tempat-tempat wisata lainnya di Istanbul. Sebelum aku masuk ke dalam, dipikiranku sudah penuh dengan ilustrasi-ilustrasi yang menakutkan. Hmm, Benarkan!.

Basilica Cistern ini dikenal dengan sebutan “Istana Tenggelam”, karena kita harus masuk ke ruang bawah tanah dulu untuk menelusuri keindahan yang terselubung berabad-abad lamanya di bawah sana.

Basilica Cistern ini adalah tempat persediaan air, terletak di bawah tanah yang dibangun pada abad ke-6. Perlu kalian ketahui guys, tempat ini dibangun sebagai tempat penyimpanan air rahasia yang lebarnya 70 m dan panjang 140 m, mengapa disebut tempat rahasia? Karena pada jaman dulu para musuh sering meracuni tempat persedian air bangsa Byzantine...


Bangunan ini memiliki tiang beton khas Romawi berjumlah 336 buah. Kharismanya benar-benar membuatku merasakan jejak-jejak kehidupan orang-orang yang hidup ribuan tahun lalu. Yang membuatku merasa aneh, mengapa orang-orang berkumpul di ujung sana ya? Apakah ada yang lebih keren dari tiang-tiang Romawi ini?

Hah! Astaga, apa aku nggak salah lihat ini? Dibalik celah-celah padatnya para wisatawan, aku melihat ada dua tiang yang bagian bawahnya terukir kepala makhluk mitologi Yunani yang sangat terkenal itu. Apakah jangan-jangan ini tempatnya? Sejak SD aku sudah kenal betul dengan legenda makhluk itu. Apakah ia memang benar-benar ada????

Aku berjalan mendekati tiang itu. Rasanya aku mendengar suara-suara teriakan yang datang dari abad ke-6 dengan jelas. Suara yang seakan tak berhenti bercerita tentang peristiwa yang terjadi di tempat ini. Memang kuakui, terkadang atmosfir dapat berbicara lebih lantang daripada mulut.........

Sekarang,  aku telah berdiri tepat didepan kepala makhluk mitologi Yunani itu. Guys, Pernahkah kalian mendengar nama Medusa? Makhluk yang dipercaya sebagai wanita berambut ular itu? Katanya, siapapun yang menatap matanya, seketika akan berubah menjadi batu. Bangsa Yunani percaya bahwa di sinilah tempat tinggal Medusa itu. Benarkah?

Nah, Konon ceritanya, Medusa adalah seorang gadis yang sangat dikagumi dengan sorotan matanya yang tajam dan hitam. Wanita berambut panjang dan bertubuh indah ini ternyata jatuh cinta pada Perseus, anak Dewa Zeus. Jadi, pada saat yang sama Dewi Athene juga jatuh cinta pada Perseus. Ia sangat cemburu hebat pada Medusa. Lalu, karena alasan itulah ia mengutuk Medusa dengan merubah rambutnya yang indah itu menjadi segerombolan ular. Parahnya, siapapun yang memandang Medusa akan berubah menjadi batu. Perseus sangat sedih mengetahui kutukan yang menimpa Medusa. Maka dengan berat hati ia memenggal kepala kekasihnya itu. Dalam setiap peperangan, kemenangan selalu diperolehnya, dan ia mempertontonkan kepala Medusa kekasihnya itu pada setiap musuhnya.

Berdasarkan kisah tadi, maka pada masa periode Bizantium, setiap kepala pedang mereka dihiasi dengan ukiran kepala Medusa, guys... Kenapa? Mungkin karena di negara Turki tidak hanya menyimpan hamparan peradaban Islam saja pada masa dinasti Ottoman, tetapi disini juga adalah tempatnya multi peradaban dunia. Peradaban Byzantium dan emperor sebelumnyapun juga tinggal disini. Seperti yang kita ketahui, persebaran peradaban Yunani yang begitu luas dan mendunia itu ternyata berhasil membangun rasa kepercayaan Byzantine terhadap keberadaan Medusa disini, yang dipercaya sebagai simbol kemenangan oleh bangsa pada peradaban sebelumnya. Oleh sebab itulah, mereka mengukir pedang mereka dengan ukiran kepala Medusa sebagai jimat kemenangan.

Sejarah Tentang Basilica Cistern dan Cerita Medusa

Patung Kepala Medusa Terbalik

Ikan-ikan di Waduk Basilica Cistern
Karena licinnya lantai di sini, kita harus super hati-hati untuk melangkah karena waduk ini masih berair. Dari jaman dahulu hingga sekarang, airnya tidak pernah habis dan ada beberapa ikan yang masih hidup di tempat tersebut. Kurang tau juga sih tepatnya ikan jenis apa itu, apakah ikan itu disebut sebagai ikan yang suci atau tidak, yang pastinya ikan itu mempunyai kemiripan sisik seperti jenis ikan koi yang bersisik agak gelap. Tapi, ikan di sini tubuhnya lebih besar dari jenis-jenis ikan Koi pada umumnya.

Tour Guide langsung berhenti berceloteh tatkala melihatku mengeluarkan kamera untuk persiapan sesi photo-photo di trip ke dua ini hihi......ma’af pak ceritanya sudah cukup dulu hihihi......Saatnya mengabadikan moment ini...... yuk, sesi photo-photo! Mau ikut? ....

With Dachi From Georgia (Abaikan Warna Kulit)
Sini....sini.....aku tunggu.......!

Guys, tempatnya sudah mau tutup nih, aku keluar dulu ya........
Hmm, setelah ini mau ke mana ya? kayaknya gak asik nih kalo sendiri............
Begini saja, gimana kalo kita ketemuan? Biar kita bisa jelajah bareng-bareng untuk trip selanjutnya. 

So, temui aku pukul 8 malam di kawasan Sultan Ahmed, aku duduk di kursi yang ada di depan Hagia Sofia. Tepatnya, aku mengenakan Coat warna coklat, syal warna abu-abu dan sarung tangan merah, lebih spesifiknya, aku memakai kaca mata............

Mau ke mana lagi kita?..........
Pernahkah kalian melihat bangunan yang dihujani ribuan bintang di dalamnya?........



5 komentar:

  1. Wohoo keren keren baik cerita ma sejarahnya...begitu to asal usul si rambutnya medusa.
    mau dong jalan-jalan sekalian belajar disana jg :')
    itu tulisan...*abaikan warna kulit :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks Gadis Turki, jangan-jangan anda berhijab.... rambutnya ada gerumbulan ularnya ahahaha :D

      Hapus
    2. Ups, mav ya pny jilbab q buat nutupin naga yang bersarang di kepala. lbh ekstrim to.

      Hapus
  2. cool kid!! keep bleeding in writing!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. jumped in writing world, love the sensation ! ;0

      Hapus